Sabtu, 15 Oktober 2011

Anak Kurang Mampu Vs Pendidikan


*ini coppas dari note fb za*

08 Juli 2011..

Seusai shalat dzuhur, Za dan ayah duduk di depan tv. Selain menonton tv, kami juga hiasi suasana itu dengan diskusi dan sesekali diselingi dengan tawa. Saat itui kami menonton ******* ( nama salah satu stasiun tv swasta), channel favorit ayah, ibu, dan Za.
Tawa kami terhenti ketika stasiun tv itu menyuguhkan informasi tentang dunia pendidikan. Berikut inti beritanya (bukan teks aslinya namun intinya sama) " Seorang anak pemilik pabrik kertas kecil dan hampir bangkrut di pinggiran Jakarta terpaksa putus sekolah karena ketidakadaan biaya. Padahal ia sudah lulus di salah satu SMA unggulan melalui jalur prestasi. Namun sekolah tersebut mewajibkan anak tersebut membayar biaya sebesar dua juta rupiah tanpa dicicil. karena kondisi ekonomi yang kurang,ia terpaksa merelakan impiannya untuk melajutkan sekolah di SMA tersebut. Alhasil ia hanya membantu ayahnya bekerja di pabrik kertas kecil itu."

"Kasian yah.." Za bersimpati..

"Iya bener kasian.. Makanya teteh harus bersyukur, ayah sampai detik ini masih bisa menyekolahkan teteh sama yang lain. liat sekarang teteh udah kuliah, ayah masih bisa biayain bahkan uang saku juga tiap bulan dikirim kan? Coba bayangin kalo teteh dan aa kaya gitu! Sekarang sok atuh jangan disia-siakan." Ayah menasehati panjang lebar.

"Iya yah.. Alhamdulillah.. Makasih ya yah." kata Za sambil mengecup pipi ayah lalu masuk ke kamar.

Di kamar Za jadi ingat kejadian yang sama mirisnya. Beberapa waktu yang lalu, Za dan teman-teman Za mengadakan acara baksos di pinggiran kota Bandung. Salah satu kegiatannya adalah "Iilmu Gratis" dimana anak-anak jalanan mendapatkan ilmu gratis tentang calistung. Peserta yang ikut kegiatan Ilmu Gratis" itu usianya beragam, kalau disetarakan dengan anak-anak yang sekolah, mereka itu ada yang masih seusia anak TK, SD, SMP, bahkan SMA pun ada. Mereka dibagi ke beberapa kelas, yang satu kelasnya berisi kurang lebih 6 orang. Za sempat mengisi beberapa sesi di kegiatan tersebut. Masih ingat ketika Za pertama kali ketemu mereka. Za coba kuasai diri untuk perkenalkan siapa Za kepada mereka, lalu sedikit bercerita tentang sesuatu yang inspiratif. Setelah Za rasa mereka nyaman dengan Za, Za memulai pelajaran membaca. Za bertanya kepada mereka "Ayo..siapa yang sudah bisa membaca?". Dan jawaban mereka kompak menjawab "eweuh teh.." Masya Allah, dari ke enam orang itu tidak ada satu pun yang bisa membaca padahal satu orang diantara mereka usianya -kalau dia sekolah- sekitar SMA kelas X. Za lihat diri Za sendiri, dulu Za bisa baca ketika Za TK sekitar 5 tahun. dada Za serasa sesak, miris sekali. "karena kemisikinan kah yang menjadikan mereka buta huruf seperti ini?" Za secara perlahan memperkenalkan huruf alphabet kepada mereka. Dari A sampai Z, tanpa terkecuali. Bertahap pula mengajarkan mereka mengeja kata demi kata. dan mereka pun mulai mengeja kata-kata yang Za tulis di papan tulis. Waktu 45 menit alhamdulillah termanfaatkan dengan baik, meskipun mereka belum lancar membaca namun setidaknya mereka sudah melek huruf.

Dua kejadian tersebut jelas contoh kecil tentang dunia pendidikan di Indonesia, tentu masih banyak kejadian-kejadian yang lainnya yang hampir sama atau bahkan lebih dari kedua kejadian itu. Bener-bener ironis jika dilihat dari potensi negara Indonesia. Indonesia adalah sebuah negara yang kaya raya akan hasil buminya. Tanahnya subur, hampir semua jenis tanaman dapat tumbuh subur dan panen. Lautnya ber mil-mil luasnya dengan beraneka ragam jenis ikan laut di dalamnya. Maka tak heran negara Indonesia dijuluki negara agraris dan negara maritim. Kalau ditinjau dari kelebihan-kelebihan tersebut seharusnya sebagian besar rakyatnya kaya raya atau setidaknya hidup layak. Hidup layak yang mencukupi sandang, pangan, dan papannya. Termasuk dari layak mendapatkan pendidikan. Namun realitanya berbalik 180 derajat. Hanya beberapa yang hidup kaya raya, harta melimpah. sisanya? Ya.. Mereka hidup serba kekurangan atau kasarnya melarat. Untuk tiga hal pokok (sandang, pangan, papan) saja tidak tercukupi. Apalagi dari segi pendidikannya? Tentu banyak anak yang tidak merasakan bangku sekolah hingga perguruan tinggi. Padahal katanya mereka lah generasi penerus bangsa. Kalau generesai penerus bangsanya aja sulit mendapatkan pendidikan, lalu seperti apakah bangsa ini dikemudian hari?

Di otak Za muncul banyak pertanyaan.
"Kapan ya mereka anak-anak yang kurang mampu dapat bebas mendapatkan ilmu, seperti halnya anak-anak juragan yang punya banya uang, tanpa terbebani oleh biaya yang mencekek leher keluarga mereka?"

Ada yang bisa menjawab ??? 

--zahra--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar