Di waktu
libur kuliah Za baca buku "fun diary olin". Buku ini pemberian ayah
waktu keluarga Za jalan-jalan ke salah satu toko buku di cirebon. Bukunya
sangat menarik, berisi tentang segala hal yang berhubungan dengan remaja. Mulai
dari pengenalan kepribadian remaja, tentang hobby, tentang persahabatan,
tentang idola, tentang lingkungan, tentang agamanya juga ada. Dan tentu saja
tentang keluarga. Pokoknya buku ini sangat membantu Za mencari jati diri
sebagai seorang gadis yang pada saat itu masuk dalam fase purbetas.
Malam ini
Za coba membuka halaman yang menjelasakan tentang keluarga. Di halaman itu
tertempel foto keluarga Za, ada ayah, alm.ibu, Za, de Opang dan de nu'man.
Semuanya tersenyum lebar. Di bawah foto itu ada tulisan yang bener-bener
ngebuka mata hati Za tentang makna sebuah keluarga. Begini loh tulisannya
:
Keluargaku
Lihatlah
aku di tengah keluargaku! Aku bangga menjadi bagian dari mereka. Pasti semua
orang ingin menjadi bagaian dari keluargaku. Bagiku, keluarga adalah segalanya.
Mereka adalah pintu gerbang yang aku lalui untuk hidup di dunia ini. Aku tidak
pernah memilih di keluarga mana aku dilahirkan. Tetapi, allah mahabijaksana,
dia telah mengatur setiap orang akan lahir di dalam keluarga yang tepat.
Bagiku,
keluarga adalah kelompok manusia yang paling istimewa di hatiku. Merekalah
orang-orang pertama yang menyambu kelahiranku, dan mereka jugalah yang nanti
akan mengantar dan melepas kepergianku dari dunia ini.
Apa sih
arti keluarga bagi kamu?
Hmmm... Za
resapi kata demi kata di tulisan itu. "apa sih arti keluarga bagi
kamu?"
Sama
seperti tulisan di atas, bagi Za keluarga adalah segalanya. Mereka yang ada di
saat Za suka ataupun duka. Mereka yang buat hari Za penuh dengan senyum dan
tawa. Mereka yang bimbing Za untuk bisa tetap berdiri di lingkungan luar.
Mereka hidup sederhana, namun sangat membuat Za merasa aman dan nyaman bila
berada di tengah mereka. Jika Za jauh dari mereka, seperti halnya saat ini, Za
merasakan sebuah rindu yang sangat besar. Mereka tak membekali Za harta yang
berilmpah yang dapat Za habiskan kapan aja, namun mereka hanya membekali sebuah
"jiwa". Jiwa yang mampu bertahan meski banyak rintangan dan tentu tak
kan habis termakan Zaman. Gambaran keluarga sakinah, mawadah, warohmah
sepertinya Za temui di keluarga Za ini. Alhamdulillah ya allah :)
Keluarga Za
beranggotakan 6 orang. Ada ayah, ibu, Za, de Opang, de nu'man, dan dede Nufar.
Semuanya punya karakter yang berbeda-beda. Mulai dari kegemaran, kebiasaan,
dll. Za jelasin satu per satu ya.
Taofik, ayah Za..
Ayah lahir di brebes 45 tahun silam. Menurut teman-teman Za sih, kalau diliat
ayah ini "galak". Ya mungkin karena pengaruh kumis yang lebat :) tapi
sebenarnya ayah baik ko, ganteng lagi :) ayah adalah sosok bapak yang tegas,
keras kepala, tapi sayang banget sama ibu dan ke-3 anaknya.
keras
kepala ayah bisa dilihat waktu Za mau masuk kuliah. Masih inget banget Za
uring-uringan waktu ayah gak ngizinin Za kuliah di radiologi poltekkes
semarang. Padahal udah lolos. "katanya mau jadi guru biologi. Poltekkes
mah bukan mencetak guru teh",kata ayah gitu. Walau dengan berbagai bujuk
rayu, tetep aja ga ngizinin dengan alibi "guru". Emang sih dari
dulu Za punya cita-cita jadi guru mengikuti jejak ayah dan ibu. Ayah tau dan
cukup senang dengan cita-cita Za waktu itu apalagi ayah tau kesukaannya pada
biologi menurun ke Za. Begitulah ayah, kalau sudah tau cita-cita anaknya, ayah
kekeuh perjuangin dan minta kita konsisten. Bagi ayah "hidup itu harus
punya tujuan. Apa yang direncanakan awal, itu yang harus diperjuangin. Man
jadda wa jadda."
Ayah itu
seorang bapak yang perhatian banget sama anak-anaknya. Terutama Za anak
perempuan satu-satunya. Za inget waktu Za masih semseter satu Za sakit tipes.
Di kostan Za kesakitan luar biasa.jam 11 malem Za nelpon ayah sambil meringis
kesakitan. "yah..teteh sakit.. Ga kuat kalo di bandung sendiri.. Sakit
banget yah", nangis sesenggukan. Di seberang sana ayah nguatin Za "
sabar ya nak.. Tahan sebentar aja. Ayah ke bandung sekarang ya teh. Sambil
nunggu ayah teteh jangan lepas dzikir dan doa ke allah ya sayang". Jam dua
malem ayah ditemani pakde nyampe bandung buat jemput Za. Dan karena badan Za
lemes banget, dari kostan sampe ke mobil Za dibopong ayah. Pakde yang nyetir,
selama perjalanan ayah lelap tidur. Dari wajahnya menggambarkan ayah kelelahan.
Profesinya menjadi kepala sekolah memang menuntutnya untuk stand by di sekolah
hingga senja atau bahkan petang.
Ayah juga
seorang ayah yang kuat, gak mau perlihatkan air mata di depan Za. Bahkan ketika
ibu meninggal, ayah cukup tegar dan menyampaikannya penuh hati-hati
kepada Za tanpa air mata. Namun Za tau sebenarnya ayah sangat kehilangan.
Sambil memeluk erat tubuh Za, Opang, dan nu'man ayah mengatakan sebuah pesan,
"yang hidup pasti akan mati. Yang mati berarti allah jauh lebih sayang.
Sama halnya allah sayang pada ibu. Allah cinta ibu, makanya allah biarkan ibu
di syurga. Alhamdulillah ayah masih bisa menolong ibu mengucapkan syahadat di
ujung usianya. Insya allah kita tenang, ibu khusnul khotimah. Tinggal kita yang
tegar dan berdoa untuk ibu. Inget doa anak yang shaleh gak akan pernah terputus
sampai kapanpun." lalu menciumi kening dan menghapus air mata anaknya satu
per satu.
Pernah
berpikir.. Za ingin mendapatkan pendamping hidup seperti ayah. Yang tulus
mencintai dan memberi meski kesederhanaan yang ia miliki.
Ibu.. Za
punya dua ibu loh.. Za bersyukur karena semuanya sayang sama Za.
Suharti, ibu
kandung Za. Ibu sudah 4 tahun meninggal dunia karena gagal ginjal akut yang
menyerang tubuhnya. Selama hidupnya ibu mengajari Za banyak hal. Mulai dari hal
kecil seperti kebiasaan sehari hari, tata cara makan, minum, mandi yang baik,
belajar, dan mengarang tulisan bersama. Sampai hal yang besar tentang ketabahan
dan semangat hidup. Ibu ati, panggilan sayang Za ke ibu, memang memiliki
ketabahan yang luar biasa. Ketabahan dalam melawan penyakit yang mencongkol
pada dirinya. Za tau selama 10 tahun itu ibu merasakan sakit yang luar biasa
seperti : kadar ureum tinggi, hipertensi, hipotensi, pendarahan, keguguran,
bahkan beberapa tahun terakhir sebelum ibu meninggal, ginjal ibu tidak lagi
memproduksi urin. Tapi ibu gak pernah nunjukin itu semua ke Za,Opang atau pun
nu'man. Ya gak pernah! Yang kita tahu ibu sakit gagal ginjal, rutin cuci darah
2 minggu sekali ke cirebon, dan sesekali opname. Pernah waktu ibu diopname dan
mengalami pendarahan besar yang menghabiskan 13 labu darah o dari berbagai
orang, Opang nanya "ibu sakit ya.." ibu tersenyum dan menjawab
"besok ibu pulang ko a. Ibu gak sakit"
Ibu
adalah orang pertama yang sangat mendukung Za menulis. Untuk membuktikan
dukungannya ibu memberi Za sebuah diary berwana merah hati, dan meminta Za
untuk menulis apa aja yang Za mau. Lalu ibu baca dan mengedit beberapa kata
yang salah. Ibu juga pernah mengirimkan sebuah cerpen ke salah satu koran dan
dimuat di koran itu. Mulai saat itu Za jadi senang menulis sampai sekarang.
Ibu juga
adalah pelanggan setia pijitan Za. Hampir setiap malam ibu kecapean. Sambil
nonton tv dan bercanda gurau, Za pijitin ibu. Ibu juga ngerasa segeran sehabis
dipijit. Ya walaupun setelah mijit Za bandel dan suka minta uang jajan tambahan
:) hehe
Setelah
ibu meninggal, awalnya Za merasa Za gak mampu untuk bertahan hidup tanpa ibu.
Ya Za anak gadis yang manjanya luar biasa ke ibu. Semuanya harus sama ibu. Tapi
entah setelah Za resapi lebih dalam riwayat hidup ibu. Justru ibulah yang
menguatkan Za untuk hidup. Bahkan jauh lebih dewasa.
Sri
Daningsih, panggilan sayangnya adalah ibu nci. Jika dilihat dari garis
keturunan, sebenarnya ibu adalah bibi Za. Namun, setelah ibu ati meninggal.
Ayah memintanya untuk meneruskan perjuangan ibu ati,kakanya, untuk mendidik Za
dan ke dua adik Za menjadi anak yang shaleh dan shaleha. Parasnya menurut
sebagian orang gak jauh beda dengan ibu ati. Mungkin ada kesamaan genotip. Ibu
nci orangnya sangat bijaksana dan adil. Ini terlihat dari sikapnya gak
ada perbedaan yang signifikan dalam perubahan status. Ibu nci, baik waktu dulu
sebagai bibi maupun sekarang sebagai ibu, ibu nci tetap sayang sama Za meskipun
sekarang ibu memiliki anak kandung sendiri.
Ibu nci
juga "good listener" buat Za. Dulu waktu Za uring-uringan masalah
kuliah karena ayah yang kekeuh Za di guru, hampir tiap hari mau pagi,siang,sore
ibu nci yang setia dengerin keluhan-keluhan Za. Sekarang juga kalau Za pulang
ke rumah, ibu nci yang selalu dengerin Za cerita tentang kuliah, teman kuliah,
kostan, gaya hidup orang-orang bandung, sampai harga-harga barang di bandung
pun Za ceritain. Sesekali kalau Za lagi sibuk kuliah dan belum kasih kabar, ibu
nci yang terlebih dulu sms "nok..sehat? Ada cerita apa? Ibu siap dengerin.
Ibu kangen teteh gak cerita." bener-bener good listener lah :)
Naufal
Yatsir Taufiq, atau yang lebih akrab dipanggil Opang, adalah adik Za yang
pertama. Usianya kini baru beranjak 17 tahun. Seorang cowo yang super dingin,
ketus. Tapi perhatian banget apalagi sama Za dan kedua adenya. Uniknya Opang
selalu punya cara tersendiri untuk nunjukin semua perhatiannya itu. Contohnya
kalau ke Za, dia suka nganterin Za kalau ada perlu malem. Ya awalnya sih
ogah-ogahan. Tapi kalau udah urusannya ayah yang nyuruh, ya dia akhirnya
nganterin juga. Kalau ke nu'man, ade Za yang ke dua, biasanya mereka suka main
ps bareng. Kadang nu'man suka kesel sama kebiasaan Opang kalau tidur yang kudu
narik bibir nu'man. Opang juga suka kesel kalau nu'man jatuh dari kasur. Lucu
kalau liat mereka ribut :) nah kalau ke Nufar, ade Za yang ke tiga, Opang bener-bener
keliatan sayang nya. Hampir tiap sore Opang ngajakin Nufar muter-muter keliling
kompleks. Mereka akrab banget, kadang Za suka iri kalau Nufar lebih deket ke Opang.
Hiks, resiko ninggalin ade yang masih bayi. Jadi serasa gak kenal.
Nu’man
Ihya Taufiq, atau de nu'. Orangnya jauh berbeda dengan Opang. De nu' memiliki
watak yang super humoris. Hampir di setiap pembicaraan, ada aja yang bikin Za
ketawa. Perwakannya yang gembul menjadikan banyak orang yang bilang de nu yang
lebih mirip ayah. Ada cerita menarik tentang de nu'. Kalau orang yang tau
seperti apa perawakan de nu' dulu pasti heran dia sekarang gembul. Dulu de nu'
kurus banget. Kecil, mungil, imut-imutlah. Aneh padahal de nu' banyak minum
susu, satu kaleng susu bisa habis dalam waktu dua hari. Tapi, setelah de nu'
khitan dan berhenti minum susu, badan de nu' melebar dan sampai sekarang ini.
Ada kebiasaan unik yang masih belum bisa hilang dari dia, de nu' ga akan bisa
tidur tanpa "ewes-ewes" selimut yang dipinggirnya ada rambe-rambenya.
Selain itu, waktu d'nu masih rutin minum susu, de nu' ga mau minum kalau bukan
gelas ijo. Ya itulah nu'man, seorang ade yang penuh keunikan.
LaiNufar Zahran
taufiq, panggilan singkatnya Nufar atau panggilan sayangnya dede. Dede
lahir satu setengah tahun yang lalu. Meskipun ade dari ibu yang berbeda, namun Za
gak membedakan. Bagi Za semua sama, sama-sama ade Za yang harus Za bimbing.
Selama satu setengah tahun usianya, banyak orang yang suka sama dede karena di
dekatnya kita bisa tertawa sebab ulahnya yang spontanitas. Mengenai nama dede
"laiNufar Zahran taufiq" banyak orang yang bilang itu kaya singkatan
nama-nama kakanya: Za ( Lathifatuzzahra Taufiq), Opang (Naufal Yatsir Taufiq),
dan de nu' (Nu’man Ihya Taufiq). Kalau diliat-diliat sih emang terkesan begitu,
tapi sebenarnya nama itu punya arti yang sangat mendalam : petunjuk kelopak
teratai yang berkilauan. Semoga saja ketika dewasa dede memberikan sebuah
kilauan untuk keluarga. Amien :)
Lihatkan
?!
Keluarga Za
punya karakter, kebiasaan, bahkan panggilan kesayangan yang berbeda-beda. Kita
juga punya cara tersendiri untuk nunjukin rasa sayang dan cinta. Bersyukur
banget allah telah memberi Za sebuah keluarga yang indah. Za sayang kalian :)
Nah itu
gambaran tentang arti keluarga bagi Za.
Gimana
dengan kalian?? Pasti lebih seru kan :))